5 Kesalahan Umum Memulai Bisnis

Glorifikasi Bisnis dan Bisnisman

Banyak pendapat soal bisnis, tips-tips atau motivasi soal bisnis yang ada diluaran sana khususnya di komunitas mainstream. Tapi sayangnya menurut gue sebagian besarnya ngelontarkan “romantisasi” dan “glorifikasi” soal bisnis dan pelakunya (bisnisman).

Ga percaya? Berapa banyak lo baca soal Bill Gates, Steve Jobs dan yang baru-baru ini mulai rame diobrolin, Elon Musk? Bill Gates dengan Microsoftnya menguasai pasar PC, Steve Jobs dengan Applenya merajai tingkatan perusahaan dengan nilai terbesar di dunia, Elon Musk berawal dari membuat game di garasi sampai meluncurkan SpaceX. Begitu seterusnya.

Gue pribadi jujur emang suka baca-baca profil mereka juga. Umumnya gue suka baca-baca quote-quote motivasi dan gue emang prefer nikmatin film dan buku non fiksi (misalnya biografi, documentary atau setidaknya “based on true story”) dibandingkan film dan buku fiksi.

Misalnya baru-baru ini gue enjoy banget nonton “Darkest Hour” walaupun banyak kritikus film yang bilang ini film terlalu “mengglorifikasi” Churchill dan nutupin karakter jeleknya dia. Nah ini yang mau gue bahas dulu, soal “glorifikasi”

Maksudnya “glorifikasi” gimana? Lo coba deh nonton film “Jobs” versi Aston Kutcher dan “Steve Jobs” versi Michael Fassbender. Bandingin keduanya.

Jelas “Jobs” versi Aston Kutcher mengglorifikasi Steve Jobs, dibandingkan “Steve Jobs” versi Fassbender yang blak-blakan ngupas beberapa skandal yang berkaitan sama karakter Steve sendiri. Beberapa diantaranya ga mau ngakuin anak kandungnya atau ngasih penghargaan ke partnernya, Steve Wozniak.

Itu sisi jeleknya Steve Jobs. Dan ya ngomong jujur aja, nobody’s perfect apalagi orang-orang besar kayak Jobs dan Gates. Tapi tetep kita bisa belajar dari orang-orang ini. Ambil yang baik, buang yang jelek. Beres.

Kalo mau tau jauh lebih lengkap soal Steve Jobs, lo bisa baca “iCon Steve Jobs: The Greatest Second Act in the History of Business”. Atau biografi Steve Jobs tulisan Walter Isaacson (udah punya tapi belon gue baca). Kayaknya dua buku ini yang paling netral ceritain soal Steve Jobs.

Yang jelas, perjalanan dia ngebangun Apple ga selalu mulus, kayak sekarang dimana Apple itu udah jadi company dengan nilai tertinggi di dunia. Banyak produk gagal yang dia ciptain, malah Jobs sendiri sempat ditendang dari Apple.

Hal-hal kayak gitu yang jarang banget diangkat sama masyarakat mainstream. Yang ada cuma iPod menyelamatkan industri musik, iPhone merevolusi industri smartphone, iPad mengancam industri PC.

Tapi gue yakin banyak dari lo yang ga pernah denger yang namanya “Apple Lisa”, “Apple Newton” dan “Apple Pippin”.Itu cuma seupil dari sederetan produk gagal Apple, gue yakin diluar yang gue sebut masih banyak aib Apple dan Steve Jobs yang lain, cuma amat sangat jarang (atau bahkan ga pernah) keangkat.

Dan orang-orang cuma mau membaca soal bisnisman sukses. Gimana dengan bisnis-bisnis yang gagal? Rata-rata jarang banget documentary atau buku yang ngupas bisnis gagal, padahal dari situ kita sebenernya bisa belajar banyak.

Ini yang namanya “glorifikasi”.

Nah di post kali ini gue mau ceritain soal pengalaman gue ngadepin realita dunia bisnis. Selama ini lo dicekoki berbagai motivasi-motivasi dan quote-quote indah dari para super enterpreneur kayak Steve Jobs, Jack Ma, Richard Branson, Colonel Sanders, Elon Musk dsb. Tapi lo pernah ga diperlihatkan betapa kejamnya dunia bisnis? Poin-poin negatif menjalankan bisnis? Gue yakin kagak.

Berikutnya gue beberin beberapa poin yang gue dapet mengenai kekejaman dan realita bisnis setidaknya dari pengalaman usaha gue selama ini. Kali ini gue fokusin ke kesalahan yang banyak gue perhatiin dari diri gue sendiri, juga orang-orang sekitar gue yang mencoba mulai bisnis sendiri.

Goal Terlalu Tinggi

Kalo ngomong “bisnis”, “bisnisman”, “enterpreneur” atau “startup”, gue yakin kebanyakan orang kebayangnya kantor gedean, dengan suasana yang santai dan playful, dengan isi ratusan karyawan sekaligus dan faisilitas yang bleeding edge kayak Google, Facebook, Apple dan Microsoft.

Nah gara-gara visi yang ketinggian ini kebanyakan orang itu mengeluh ga punya modal buat memulai bisnis. Ngomongnya perlu duit milyaran buat memulai bisnis. Tapi sebenernya lo liat sekeliling elo, itu udah banyak bisnis yang sedang berjalan.

Lo liat abang jual pulsa, itu juga bisnis sebenernya. Lo liat angkringan itu bisnis juga benernya. Lo liat abang bakso bawa gerobak baksonya keliling, itu termasuk bisnis sebenernya. Kalo gue ngobrol sama mereka, ada beberapa gerobak bakso yang pemiliknya satu orang, dan abang bakso yang keliling ini “nyewa” gerobaknya dan bagi hasil sama pemilik gerobaknya.

Ada juga memang yang bikin gerobak sendiri, masak sendiri, dan dorong gerobaknya sendiri. Ini juga udah termasuk bisnis. Apa yang kayak gini perlu dana milyaran rupiah? Engga lah.

Tapi kendala orang ga mau terjun ke bidang-bidang seperti itu cuma satu sebenernya, GENGSI. Karena jualan makanan gerobak atau jualan pulsa itu dipandang miring sama orang. Selama halal dan ga ngerugikan orang lain apa masalahnya? Harga diri? Lol. Emang harga dirilo bisa ngasih makan lo dan keluarga elo?

Pernah suatu waktu ada abang ketoprak deket rumah gue yang tiap malem jualan pasti habis. Pas gue tanya omsetnya berapa, bisa jutaan per hari. Per hari loh ya bukan per bulan. Kaget kagak lo?

Gue jualan produk elektronik di Google Play, modal ga banyak, cuma satu laptop mid-end. Okelah listrik plus internet. Gengsinya oke, main sama Google, kesannya canggih bener ya. Tapi jelas blak-blakan aja kalo ngomongin omset per hari dibandingin sama abang ketoprak itu masih kalah jauh.

Contoh lain, pedagang Tanah Abang yang mangkal di pinggiran jalan bisa punya omset belasan juta rupiah per hari. Tapi mereka ngakunya “pedagang kecil”. Dan emang penampilannya kayaknya gembel banget gitu. Ya suka atau engga, tapi kenyataannya seperti itu.

Intinya sih mau bisnis ya mulai aja. Dan mulai dengan apa yang elo punya. Kalo cuma punya modal 10 juta, ya cari cara, akal, puter otak supaya 10 juta itu bisa berkembang. Malah kalo bisa ga usah pake modal.

Ya modal emang tetep harus ada, misalnya modal waktu dan energi, kalo emang lo ga punya duit sama sekali. Tapi seringkali kebanyakan orang cuma ngeliat tokoh-tokoh yang udah jadi besar kayak Steve Jobs dan Bill Gates, tanpa ngeliat bener sejarah awalnya mereka itu gimana.

Salah satu kantor tempat gue kerja dulu, awalnya make ruangan gudang ukuran mungkin sekitar 10 x 10 m, dan itupun nebeng dari company lain (ownernya punya saudara yang punya bisnis yang udah mapan).

Logikanya kalo dia mau pake kantor tower pencakar langit di pusat bisnis Jakarta sih bisa-bisa aja. Dia mampu keluarin duit segitu. Tapi intinya dia meminimalisir rersiko dengan memulai bisnisnya dengan apa yang dia udah punya saat itu.

Dan sekarang, company itu punya gedung sendiri dua tingkat, dengan total area seluas mungkin 1 lapangan sepakbola lebih (plus parkir dan gedung dua tingkat sebesar separoh lapangan bola).

Orang yang dihire juga macem-macem. Bule dari Amrik ada, bule dari Inggris ada, bule dari Eropa ada, orang India, orang Thailand, orang Singapore juga ada. Ya gue ga nyangkal, ownernya emang tajir, anak dari pengusaha yang ada di tingkatan orang terkaya di Indonesia. Beberapa tingkat dibawah Liem Sioe Liong kalo ga salah.

Jadi gini, bukannya ga boleh punya goal tinggi. Malah goal itu harus setinggi-tingginya. Tapi kayak yang gue sebut di artikel sebelumnya, step pertama itu lo harus jalani dulu. Dan sebisa mungkin resiko sekecil-kecilnya. Ketika udah ada titik terang, dan emang punya tambahan modal, barulah lo kembangin. Ini yang namanya “leverage”.

Nah terus apa bedanya bisnis sama dagang?

Ini seengganya yang gue pelajarin ya. Dagang itu jualan. Titik. Lo punya barang/jasa terus lo jual. Bisnis itu membuat sistem, supaya semuanya bisa berjalan otomatis. Jadi rata-rata memang harus start dari dagang dulu, lo harus involve langsung sama apa yang mau elo tawarkan, sampai nantinya ketika sudah matang, elo melakukan yang namanya “leverage”. Apa itu “leverage”? Baca poin berikutnya deh.

Engga Melakukan Leverage

Intinya “leverage” itu mengembangkan bisnis.

Masih pake contoh penjual makanan gerobak. Ada orang jualan siomay di deket rumah gue, tiap sore keliling naik sepeda. Waktu awal dulu sepedanya bagus, peralatannya (panci dan botol-botol saos) masih cling semua. Fast forward ke detik ini, bapak ini masih jualan siomay, dengan rutinitas yang sama, jam yang sama, sepeda yang sama, peralatan yang sama (dan peralatannya mulai kemakan usia).

Konsisten, ok. Tapi “aset” dia mulai dimakan umur. Dan dagangan dia ga berkembang. Kalo dia merasa cukup dengan keadaan seperti itu ya emang ga masalah.

Problemnya, dagangan dia umum sekali, ga ada bedanya dengan siomay-siomay yang lain. Ga ada spesialnya dibandingin yang lain. Tapi yang terutama, bapak ini engga melakukan branding atau leverage, karena dia ngerasa cukup dengan keseharian dia yang seperti ini. Itulah sebabnya usaha dia ga berkembang.

Mungkin sekali dua kali lo liat gerobak yang pakai nama. Misalnya “siomay Pak Kumis” atau “bakso Malang Pak Wawan”. Tapi gerobak atau produknya sendiri ga memorable, ga menclok di otak. Ada yang bener-bener lo inget dari penjual makanan keliling begini? Mungkin ada, tapi gue yakin bagi elo sebagian besar semuanya sama.

Ketika gue ngidam siomay, gue tinggal cari, biasanya mangkal di dekat kompleks ruko, perkantoran atau sekolahan dan kampus. Gue ga bela-belain spesifik nyari siomay si bapak itu. Kalo dibilang enak, ya enak, karena gue doyan siomay. Dan gue juga yakin elo juga sama. Tapi rata-rata semua siomay gerobak itu rasanya sama, dan ga ada yang bisa menclok di otak.

Ini satu contoh engga melakukan leverage.

Gimana sih kemungkinan “leverage”nya? Ya misalnya bikin gerobak kedua, cari “partner” bisnis, dia bisa pinjamkan gerobak itu ke “partner” dia. Keuntungan mungkin naik %50 dari yang dulu, karena pembagian hasil dengan “partner”nya.

Nah keuntungan ini terus digunakan untuk gerobak ketiga, begitu dan seterusnya. Pada akhirnya abang siomay yang pertama kali jalan udah engga perlu keliling lagi, karena dia udah punya banyak “partner” ini.

Udah beberapa kali dari pengalaman gue pribadi, bahwa, bos-bos gue yang termasuk kategori “founder” biasanya ga ngerti/ga nguasai soal subjek/topik/tema/bidang perusahaan yang dibiayain dia. Tapi mereka pintar main “leverage” ini.

Contoh paling bagus? Kalo lo inget Pak Sriyono dengan Siomay Pinknya. Seinget gue dulu dia jualan pake sepeda aja. Tapi ada yang unik dari jualannya dia. Walau siomaynya (dari yang gue baca, belon pernah cobain sendiri) biasa aja, warna pink ini yang mencolok. Cuma gara-gara ini beliau sering diliput media. Dan beliau ini contoh keren dari topik “leverage” dan khususnya law of averages.

Ga ada ceritanya dimana-mana sekali cobain langsung sukses, melejit. Pernah gue baca, entah dimana lupa. Tiap orang itu pasti punya jatah gagal.

Emang gue ngerasain sendiri susahnya jalanin bisnis. Dan praktek lapangan jelas ga semudah dengan ngebacot di blog sih ya. Tapi setidaknya itu yang gue pahamin.

Kurang Perencanaan

Punya rencana itu bagus. Kalo bisa rencanakan juga “plan B” atau “backup plan”. Ini bukan berarti elo mengantisipasi gagal atau engga pede sama bisnislu. Tapi realistis aja. Setiap hari mungkin ada ratusan, ribuan atau bahkan jutaan “startup” yang muncul dan cuma sedikit sekali yang bisa menghasilkan profit, sedikit sekali bisa bertahan apalagi sampai jadi tahap “unicorn”. Yang lebih parah dari itu malah ada yang bertahan puluhan tahun tapi kolaps tanpa terduga.

Contohnya? Kodak, Nokia, Enron, dan banyak lagi. Kalo di Indonesia yang keliatan banget itu 7 Eleven. Padahal di negeri seberang 7 Eleven termasuk dominan merajai bisnis minimart. Dan baru-baru ini Uber hengkang dari Asia Tenggara dan operasionalnya dialihkan ke Grab. Dealnya gimana, gue ga terlalu ngikutin.

Sewaktu Apple dan Microsoft muncul sebagai raja komputer personal, banyak brand PC lainnya yang ikut berlaga di bidang ini. Ga percaya? Pernahkah elo denger brand yang namanya Tandy, Amiga, Atari ST, Commodore dst?

Mereka semua bergerak di bidang personal computing. Itu baru beberapa brand yang termasuk populer. Gimana dengan yang kecil-kecilan? Tentu banyak. Tapi yang survive hingga detik ini cuma Apple sedangkan Microsoft mulai agresif bermain hardware belakangan. IBM sebagai raja komputer PC di tahun 90an udah dicaplok Lenovo.

Dan yang gue sebut di bab sebelumnya, Steve Jobs yang ditendang dari perusahaan yang dibangun dari darah dan keringetnya dia sendiri. Tentunya Steve ga expect waktu itu bakal dikeluarin dari perusahaannya sendiri. Sewaktu dikeluarkan dari Apple, dia bikin beberapa perusahaan lain semasa ini, salah satunya perusahaan komputer NeXT.

NeXT ga berlangsung lama, dan akhirnya Steve bisa balik ke Apple, bikin gebrakan baru dengan iPhone. Kisah lengkapnya silakan cari sendiri. Singkatnya, gue cuma mau bilang : it’s a jungle out there.

Nah kalo jungle, kenapa harus bikin rencana? Toh outcomenya kita ga pernah tau juga? Lakuin aja kan? Gini, action itu bagus. Tapi kalau tanpa rencana sama sekali, itu namanya bunuh diri. Kayak ke medan perang tanpa senjata sama sekali. Nah lo berencana memulai bisnis, gimana kalo bisnisnya gagal? Lo ada pegangan lain ga?

Ada kasus nyata soal kurang perencanaan? Gue yakin banyak dan setiap hari pasti ada. Gue sendiri kena getahnya, karena gue berpikir kapan mulainya kalo kagak mulai sekarang? Jadi waktu itu gue quit job, bener-bener niat fokus ke bisnis gue, tapi hampir setahun gue tanpa income sama sekali. Income ada, tapi belon pada nominal yang bisa bikin gue berdiri sendiri.

Gue mulai ngutang ke orang, dan pada akhirnya gue nyerah, yang ada nambah utang. Bagi gue sih ini pengalaman berharga, karena hal seperti ini gue sering baca dari artikel orang lain, tapi karena kepedean gue modal nekad aja. Harus ngalamin sendiri, istilahnya. Waktu itu, jujur aja emang gue kemakan glorifikasi kisah-kisah bisnisman diluaran sana.

Terlalu Banyak Melakukan Perencanaan

Kebalikan dari poin sebelumnya, melakukan perencanaan yang berlebihan itu malah akan berdampak negatif. Karena setelah ngalamin sendiri, setelah gue rencanakan mateng-mateng, tapi kenyataannya malah banyak halangan yang ga terduga yang muncul ditengah jalan.

Salah satu omongan bos gue yang paling memorable “SAYA GA PEDULI SISTEM!”. Gue waktu itu sebenernya jadi bingung sama orang ini, Karena omongannya kebalik banget sama apa yang gue pelajarin soal bisnis selama ini. Yah kayak yang gue bilang, gue masih terdoktrin dengan glorifikasi bisnisman.

Dan sikap dia berbanding terbalik banget sama pengalaman gue sendiri, yang besar dan hidup ditengah-tengah keluarga karyawan. Gue cukup shock waktu pertama kali menyampaikan ide gue memulai bisnis sendiri, ditolak mentah-mentah, dan ternyata yang menghalangi gue itu justru keluarga gue sendiri.

Pola pikir mereka (keluarga gue) ga jauh-jauh seperti yang gue ceritakan di bab sebelumnya; bisnis harus pakai gedung sendiri (yang mana sekarang rata-rata dapet 100 jt per bulan buat ruko kecil aja di lokasi bagus aja udah beruntung banget). Budgeting harus dipersiapkan sedetail mungkin. Semua aset pendukung harus siap. Sistem harus ready, ga boleh ada kesalahan sama sekali. Semua business plan harus mateng dan rapi.

Kenyataannya bisnisman awalnya mau ga mau harus berdagang. Ketika mulai stabil, dia cari orang dan buat sistem supaya bisa mandiri, dikembangin terus (leverage) sampai bisnisnya bisa berjalan sendiri, kemudian dia ke bisnis lainnya. Sistem inilah yang jadi “core” atau inti dari bisnis.

Sama kayak bos gue itu. Dia pake tempat seadanya yang dia punya. Karyawan disuruh bawa laptop sendiri. Gue sempet protes “lah kok gak difasilitasi?”. Baru sekarang gue nyadar, setelah gue ngerasain sendiri. Bukan berarti companynya jelek atau kagak modal (sekarang beliau udah jadi venture capitalist), tapi namanya baru mulai jangan pasang gede-gede. Karena ga tau outcomenya nanti kayak gimana.

Akhirnya gue telen ego, karena emang bos gue emang jauh lebih jago soal bisnis, ya jelas gue ga banyak bacot deh, ikutin omongannya, perhatiin pola pikirnya, pelajarin apa yang dia tunjukkin dan kasih. Ini kesempatan gue banget. Plan ga banyak, dan sistem dibangun seiring berjalannya waktu, setelah kita nemuin kendala-kendalanya di tengah jalan.

Nah, problem lainnya dengan perencanaan yang berlebihan, terlebih lagi lo masih jadi single fighter, itu biasanya bakal ngarah ke paralysis of analisis. Kebanyakan analisa jadinya ga mulai-mulai. Kebanyakan rencana dan ketika lo jalankan banyak yang ga sesuai rencana bakal bener-bener nampol mental elo habis-habisan.

Contoh pikiran umum yang kebanyakan mikir “resikonya terlalu gede”, “produknya udah ada yang jual”, “ga bakalan bisa untung”, “marketnya udah terlalu saturated”, “targetnya terlalu sempit” begitu dan seterusnya, kebanyakan alasan akhirnya batal ngejalanin bisnis.

Kalo lo baru mau memulai bisnis, gini analoginya. Misalnya lo punya anak, konon katanya rata-rata bayi itu mulai belajar berjalan usia 9 bulan. Apa iya waktu usia 8 bulan elo melakukan berbagai macam persiapan matang, sematang-matangnya.

Lo belikan sepatu Nike original khusus berlari buat si anak, lo lapisi seluruh rumah elo dengan bantalan empuk supaya waktu jatuh anak elo itu ga terluka sama sekali, dst? Nyatanya engga kan.

Padahal selama ini karena gue seringnya kerja di kantor startup (baru mulai), rata-rata emang gitu prosesnya. Mulai secepat mungkin dan dengan modal seminim mungkin. Leverage (kembangkan) ketika sudah berkembang. Baca lagi soal kantor gue yang dulu, mulai dari satu ruangan gudang kecil, berisi 4 orang. Sekarang kantornya udah punya gedung sendiri seluas lapangan bola, 2 tingkat dengan karyawan ratusan orang dengan latar belakang internasional.

Nah tapi kok ga konsisten sih ngomongnya? Tadi bilangnya kalo kurang perencanaan jelek, tapi kalo kebanyakan persiapan juga jelek. Gini, semua yang berlebihan itu pastinya jelek.

Summary

Sebenernya masih banyak hal di otak gue soal topik ini, yang mungkin akan gue susun di lain kesempatan.

Oke, sejauh ini summarynya?

  1. Cari dana yang bisa sustain dirilo sendiri, walaupun itu harus dengan jadi karyawan
  2. Mulai bisnis sebagai sampingan, dan fokus sama dua sumber ini buat income (regular job + jalanin bisnis sampingan)
  3. Sampai bisnislo bisa setidaknya mendekati salary elo sekarang elo harus mulai decide mau fokus ke yang mana
  4. Siapkan tabungan yang bisa menghidupi elo setidaknya 3 tahun kedepan kalo lo mutusin untuk quit dari kerjaan elo dan fokus mengembangkan bisnis elo