Ditilang? Ini solusinya!

Banyak pelanggaran lalu lintas yang dilakukan dengan sadar dan sengaja, dengan alasan-alasan seperti menghemat waktu atau menghindari macet.

Tilang adalah salah satu perangkat untuk memberikan efek jera kepada para pelanggar peraturan lalu lintas. Tilang dilakukan dengan memberikan surat tilang dan penyitaan surat pengendara (biasanya SIM).

Mungkin Anda selama ini adalah pengendara kendaraan bermotor yang sangat patuh dengan peraturan lalu lintas dan tidak pernah sekalipun dalam hidup Anda melanggar peraturan lalu lintas atau bahkan kena tilang.

Namun pada kenyataannya seringkali pelanggaran lalu lintas terjadi karena ketidak telitian kita terhadap rambu atau memang saat itu sedang sial saja atau singkatnya lalai dan lengah dalam berkendara.

Nah ada baiknya bila kita mempersiapkan diri agar siap menghadapi kejadian tersebut.

Berikut kita akan menelusuri beberapa solusi untuk menyelesaikan tilang.

Salam Tempel

Memang tidak dipungkiri dan sudah menjadi rahasia umum bahwa “salam tempel” seringkali menjadi solusi populer menyelesaikan masalah di tempat dengan cepat, saat itu juga. Tapi hal ini akan menyebabkan budaya korupsi yang mengakar sangat kuat dan akan sangat sulit diberantas.

Tidak hanya itu, apabila Anda terbukti berusaha menyogok/menyuap petugas, Anda bisa terkena hukuman penjara dengan hitungan tahun, maka dari itu sebaiknya budaya menyuap ini mulai kita musnahkan bersama-sama secara perlahan.

Lagipula, tilang saat ini prosedurnya sangat mudah, cepat dan seringkali bahkan lebih murah dari biaya “salam tempel” yang kerap menjadi pilihan bagi banyak pengguna jalan umum, karena anggapan melewati jalur hukum resmi sangat sulit dan berbelit.

Ditambah lagi selama ini masih banyak yang bingung mengenai kejelasan tilang slip biru dan merah, juga cara membayar denda tilang. Apakah dengan menyetor ke BRI kemudian mengambil kembaliannya setelah mengikuti sidang, atau langsung dengan cash sewaktu sidang.

Informasi sangat simpang siur mengenai hal ini, dan tidak pernah ada kejelasan apa bedanya slip merah dan slip biru. Pada akhir artikel ini akan dijelaskan mengenai beda keduanya.

Dan kita akan membahas proses penyelesaian tilang melalui jalur hukum resmi. Setelah surat tilang diberikan kepada Anda oleh petugas, ada dua opsi mengurus tilang, yaitu mengikuti sidang dan melewati sidang.

Mengikuti Sidang

Berikut prosesnya apabila Anda ingin mengikuti sidang :

  1. Datang ke pengadilan negeri tempat Anda ditilang, pada tanggal dan jam sidang yang telah ditentukan pada surat tilang (terletak pada kiri bawah surat)
  2. Ambil nomer antrian pada loket yang disediakan
  3. Tunggu sampai nomer antrian Anda dipanggil oleh petugas (biasanya dalam grup untuk memasuki ruang sidang)
  4. Ketika sudah dipanggil dalam ruang sidang, kali ini nomer dipanggil satu per satu untuk duduk di kursi terdakwa
  5. Hakim memutuskan besar denda, Anda bisa mengajukan protes pada tahap ini apabila Anda memang punya berkas pendukung/bukti yang kuat bahwa Anda tidak melanggar/tidak bersalah
  6. Setelah dakwaan; besar nominal denda tilang diputuskan oleh hakim, langsung bayar pada loket yang telah disediakan (biasanya di sebelah meja hakim).
  7. Pada saat membayar, barang sitaan (SIM/STNK atau surat-surat yang disita saat pelanggaran terjadi) akan dikembalikan kepada Anda

Prosesnya memang simple dan ketanggapan para petugas di pengadilan negeri patut diacungi jempol. Semuanya sudah selesai dalam waktu kurang dari 2 jam dan Anda bebas melanjutkan kegiatan Anda.

Hanya saja sayangnya kenapa di halaman pengadilan negeri banyak calo tilang yang beroperasi dengan leluasa.

Saya sarankan untuk TIDAK menggunakan jasa calo-calo tersebut, karena pengurusan sendiri bisa Anda lakukan dengan mudah.

Melewati Sidang

Meskipun sebelumnya telah dipaparkan prosedur mengikuti sidang tilang, namun berdasarkan pengalaman pribadi dan info-info terbaru yang selama ini telah beredar, sidang tidak perlu diikuti.

Lalu bagaimana caranya menyelesaikan tilang tanpa mengikuti sidang?

  1. Sederhana saja, lewati tanggal sidang selang minimal seminggu agar ada waktu barang sitaan (SIM atau surat-surat lainnya) sempat dikirimkan ke kejaksaan negeri tempat pelanggaran terjadi (bukan daerah tempat domisili Anda).
  2. Kemudian ambil nomer antrean di kejari tempat, tunggu hingga nomer Anda dipanggil.
  3. Ketika Anda dipanggil, nominal disebutkan di loket, bayar dan kemudian ambil barang sitaan (SIM), dan beres.

Masyarakat sepertinya masih sangat meragukan opsi kedua ini.

Anda dapat membacanya langsung dari website resmi kejari jakbar dibawah ini :

Website Kejari JakBar

Ketika saya pribadi mendatangi kejari, ada banyak spanduk bertuliskan “tidak perlu mengikuti sidang”.

Sayangnya memang sosialisasi ke masyarakat sepertinya sangat kurang, atau mungkin memang masyarakat enggan mencari informasinya sebelum mereka alami sendiri.

Besaran Denda

Masalah berikutnya yang bersangkutan dengan tilang, adalah besaran denda yang dijatuhkan kepada pelanggar. Ini juga menjadi pertanyaan umum yang sering dilontarkan oleh masyarakat.

Sayangnya tidak ada patokan pasti, karena tiap-tiap pelanggaran berbeda-beda denda maksimumnya.

Misalnya tidak memiliki SIM saat berkendara Anda bisa didenda maksimum Rp. 1.000.000,- sedangkan melanggar marka/rambu jalan denda maksimumnya adalah Rp. 500.000,-

Namun perlu diingat lagi nominal diatas adalah DENDA MAKSIMUM. Dalam arti pada saat hakim memutuskan denda, nominalnya bisa jauh lebih rendah dari itu.

Pengalaman pribadi, saya sendiri tertulis pada surat tilang denda maksimum yang dapat dikenakan adalah Rp. 500.000,- namun ternyata denda yang harus saya bayar adalah Rp. 75.000,- saja.

Jadi berapa uang yang harus dibawa saat mengambil barang sitaan atau mengikuti sidang? Sebaiknya membawa nominal denda maksimum pada Anda, agar tidak bolak balik karena kurang dana nantinya.

Slip Merah dan Slip Biru

Nah kita sekarang sampai kepada pertanyaan berikutnya, yaitu surat tilang merah atau biru?

Beberapa waktu yang lalu sempat beredar artikel yang menjadi viral, dan menyarankan untuk selalu meminta slip biru.

Namun juga sempat beredar komik yang menjelaskan ribetnya prosedur pembayaran denda tilang slip biru (oleh Komik Jakarta)

Keduanya bertolak belakang, dan malah membuat prosedur tilang yang sebenarnya semakin rancu dan membingungkan.

Jadi pada kesempatan ini mari kita luruskan keduanya sampai tuntas.

Pada link kejari yang telah dibagikan sebelumnya sudah dijelaskan secara gamblang, apa beda keduanya.

Namun untuk mempersingkat, kita uraikan kembali keduanya disini :

  1. Surat tilang merah diberikan untuk pelanggar yang tidak mau menggunakan sistem e-tilang. Surat Anda disita dan hanya bisa diambil setelah memenuhi denda/dakwaan hakim.
  2. Surat tilang biru diberikan untuk pelanggar yang menitipkan denda tilang dengan sistem e-tilang. Surat Anda bisa langsung dibawa, namun Anda harus membayar denda maksimum sesuai dengan pelanggaran yang Anda lakukan.

Jadi jelas, surat tilang merah BUKAN ditujukan bagi pelanggar yang tidak mau mengakui kesalahannya.

Sistem e-tilang (dengan slip biru) saat ini masih sangat mentah, dan Anda harus membayar denda maksimum di Bank BRI, dan kemudian mengambil kembaliannya setelah pengadilan negeri menetapkan vonis.

Nah proses pengambilan kembalian ini yang masih rentan bermasalah karena tidak adanya kejelasan prosedur pengembalian kelebihan denda serta terkesan berbelit, karena secara garis besar Anda harus mendatangi pengadilan untuk meminta surat kelebihan pembayaran dan mendatangi Bank BRI minimal dua kali (membayar denda dan mengambil kembalian pembayaran).

Baiknya Slip Merah atau Slip biru?

Baiknya sih tidak melanggar sama sekali ya.

Namun melihat perkembangan terakhir, sepertinya tidak menjadi masalah warna surat tilang yang diberikan kepada Anda.

Mengapa?

Karena Anda bisa melewati sidang, membayar dan mengambil barang sitaan langsung di kejaksaan negeri tempat pelanggaran terjadi.

Pada saat penulisan artikel ini, saya juga sempat menemui artikel yang membahas pembayaran tilang dengan cara COD (Cash On Delivery), dalam arti barang sitaan diantarkan ke rumah Anda dan Anda membayar ketika barang sampai ditempat.

Mungkin ada yang pernah mencobanya? Bila ya, Anda boleh berbagi pada kolom komentar di bawah.

Apabila Anda mempunyai pertanyaan lebih lanjut atau ingin mengoreksi artikel ini silakan post di kolom komentar di bawah atau email ke jo@josoka.com

Demikian ulasan saya, apabila bermanfaat silakan share sebanyak-banyaknya.