#Herd #Mentality

Apa itu “herd mentality”

Dari Oxford Dictionary :

NOUN
The tendency for people’s behaviour or beliefs to conform to those of the group to which they belong.

Artinya kecenderungan sikap/tingkah laku orang atau kepercayaannya yang menyesuaikan dengan grup dimana orang itu berada. Terjemahan langsungnya : “mental bergerombol”.

Secara garis besar, memang manusia itu mahluk sosial, n kayak kata pepatah lama “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Intinya elo emang harus menyesuaikan diri di tempat elo berada, seperti misalnya adat istiadat atau kebiasaan masyarakat setempat.

Contoh paling simple aja, di beberapa tempat tertentu (seperti Mal misalnya) biasanya suka ada smoking area, dan diluar smoking area tersebut ga boleh ngerokok (kebeneran gue emang perokok). Jadi kalo pas lagi jalan di mal tersebut, tiba-tiba gue pengen ngerokok, ya supaya ga ditendang dan diusir satpam malnya gue cari smoking area. Ini sekedar contoh kecil mengenai “conformity” atau penyesuaian.

Tapi bukan ini yang mau gue bahas. Biar elo bisa nangkep pesan yang mau gue sampaikan kita nostalgia sejenak yuk.

“Masyarakat”

Inget ga waktu pertama kali elo masuk sekolah?

Waktu itu bonyok elo yang nganterin elo. Elo kaget ngeliat keadaannya, sebab sebelumnya elo cuma ngikutin perintah dan peraturan orang tua aja atau mungkin kakak dan adik, nah sekarang elo berhadapan dengan orang banyak, bahkan ratusan jumlahnya (kalo engga ribuan), dengan sifat yang beda banget tiap individu, satu sama lainnya.

Elo mulai diperkenalkan dengan berbagai peraturan-peraturan dan norma baru, kayak misalnya ga boleh ngobrol di kelas selama guru ngajar, lo harus bikin PR, lo harus minta ijin buat ke WC, dan sebagainya.

Elo mulai dibentuk untuk mengikuti peraturan dan tata cara yang disepakati masyarakat (dalam hal ini sekolah). Disinilah elo mulai dikenalkan sedikit sama konsep “masyarakat” atau “society”.

Elo harus memakai seragam, bertingkah laku sama dengan teman-teman elo di kelas.

Dan ketika elo bisa menyesuaikan diri terhadap “masyarakat” kecil ini, elo pun diberi hadiah, dalam kasus ini “naik kelas”. Kalo engga, elo dihukum, berupa “tinggal kelas”.

“Tribes”

Di dalam masyarakat, elo akan menemui kelompok-kelompok lagi, yaitu “suku” atau “tribe”. Gambarannya kurang lebih begini.

Waktu lo mulai bergaul dengan teman kelas, perlahan mulai terbentuk grup-grup yang masing-masing mempunyai karakteristik sendiri. Para kutu buku berkumpul dengan para kutu buku, para “jagoan” berkumpul dengan para “jagoan” lainnya, bintang kelas berkumpul dengan para bintang kelas lainnya, begitu seterusnya.

Lo juga mulai bercengkrama dengan grup teman-teman baru  lo, dan lo semakin akrab dan dekat dengan teman-teman grup elo, ngelakuin berbagai macam kegiatan bersama, dan begitu seterusnya.

Ga ada hal lain yang elo lakuin selain sekolah, bergaul dengan teman-teman sekolah selama paling engga 14 tahun lamanya, setiap hari. Singkatnya elo ketemu orang yang itu-itu saja, 24/7 diselingi orang tua dan saudara.

Setelah sekolah selesai, lo kuliah, ketemu lingkungan baru, orang-orang baru. Tapi hal yang sama keulang lagi. Lo mulai ketemu gang hangout elo, temen nongkrong, dan ngumpulnya di kisaran situ-situ aja, sekurang-kurangnya 4 tahun (kecuali lo ini mahasiswa abadi tentunya).

Masuk dunia kerja ulangi kembali. Kalo elo loyal sama perusahaan, entah sampai berapa tahun, setidaknya sampai elo pindah ke tempat yang baru. Tempat, kegiatan, dan orang-orangnya mungkin berbeda, tapi jelas, di tempat kerja elo (bagi yang sudah bekerja) gue yakin ada grup-grup yang, setidaknya mirip seperti waktu elo masih sekolah ato kuliah, apalagi kalo kantorlo isinya ratusan karyawan lebih.

Mungkin ada beberapa dari elo yang ngambil kegiatan di luar sekolah dan kerja, jadi lo tetap ketemu orang-orang baru. Beredar istilahnya. Tapi gue yakin hal yang sama terjadi lagi di kegiatan-kegiatan tersebut.

Inilah yang dinamain dengan “tribe”. Tribe ini bagian dari masyarakat.

Sampe disini, gue rasa beberapa dari elo mulai nangkep maksud gue menyampaikan bab ini.

Herd Mentality

Masuk ke inti pembahasannya. Jadi dari bab sebelumnya bisa kita simpulin bahwa selama belasan tahun, dari kecil elo dibentuk untuk :

  1. Berkelompok
  2. Mengikuti otorita/pemimpin tanpa bertanya
  3. Mengikuti peraturan tanpa bertanya
  4. Elo mendapat hadiah bila elo bisa “conform” dengan semua itu
  5. Elo akan dihukum bila elo gagal menyesuaikan diri

Sekarang pertanyaannya, kenapa herd mentality ini sangat ditanamkan ke jiwa anak-anak?

Manusia dalam bentuk kelompok akan lebih mudah dikontrol dan diarahkan, dibandingkan mengatur tiap-tiap individu manusia itu sendiri. Karena cara berpikir dalam satu kelompok kurang lebih akan seragam.

Kalo tiap-tiap manusia dalam kelompok ini bisa berpikir secara mandiri, membuat keputusan secara mandiri dan bertindak secara mandiri, maka pemimpin status quo bakal kelabakan.

Perlu lu catet kalo sistem pendidikan formal yang sekarang banyak dijalankan di dunia berawal dari jaman revolusi industri. Pada saat itu yang dibutuhin gak lain dan gak bukan adalah pekerja yang baik, yang bisa menuruti atasan dan menjalani perintah/instruksi.

Sistem pendidikan ini tidak pernah berevolusi dari sana. Jadi memang sangat penting untuk menghasilkan “herd”.

Ga cuma itu, banyak pelajaran yang diberikan di sekolah berbasis hafalan. Lo dikasih buku, disuruh baca, terus lo dikasih tes (ujian ato kalo jaman gue biasa juga disebut dengan : ULANGan), buat ngetes seberapa hafal elo sama apa yang elo baca di buku tersebut.

Terus lo diberi nilai untuk tingkat hafalnya elo sama konten buku tersebut. Semakin lo lancar menghafal, semakin tinggi nilai dan pujian yanglo dapatkan. Ulangi lagi waktu lo masuk SMP, ulangi lagi waktu lo masuk SMA, sampe belasan tahun lamanya.

Singkatnya, elo DIBENTUK untuk “conform” terhadap sistem. Elo dibentuk untuk menuruti sistem tanpa bertanya.

Smart enough to follow directions, but lacking the understanding on how the world really works.

Nah, mungkin lo bertanya, jadi mending ga usah sekolah ya?

Bukan itu tujuan gue mengangkat hal ini.

Suka ato engga, elo hidup di tengah masyarakat. Pendidikan itu tetep penting. Kalo engga, gimana lagi caranya lo belajar baca, tulis, matematika, fisika, biologi dan seterusnya? Dengan otodidak dari internet? Ya bisa aja sih. Tapi tetap aja beberapa elemen penting dari pendidikan itu udah ngelewatin berbagai jaman khususnya penyesuaian, dan penting untuk lo cerna dan aplikasikan.

Contoh lainnya, gimana dokter bisa praktek tanpa “pengakuan” dari masyarakat? Alias mendapatkan gelar dokter itu sendiri dan ijin praktek? Dokter yang ga punya gelar “dokter” dan praktek tanpa ijin itu namanya DUKUN.Dan misalnya Geografi, kalo bukan dengan cara hafalan, gimana lagi cara mempelajarinya?

Cuma, elo mesti aware sama yang namanya “herd mentality” ini yang ditanamkan semasa elo sekolah.

Percaya ato engga, beberapa lama setelah komunitas IndoPUA gue bentuk, ada orang yang kebingungan untuk sekedar keluar SENDIRI. Karena kalo ga ada yang nemenin itu bakal dianggep aneh, dicap loser atau semacamnya. Bahkan di grup sebelah, malah didorong untuk berkelompok, sekedar untuk kenalan sama cewek.

Lo liat sendiri sekitar elo, masa iya ga ada orang yang jalan sendiri, makan sendiri atau ngemal sendiri? Dan bukan cuma cowok aja, nenek-nenek, ibu-ibu ga kurangan belanja sendiri, naik motor sendiri, bawa mobil sendiri. Aneh apanya?

Jadi apa-apa harus dengan grupnya, harus ada yang nemenin. Kalo ga ada yang nemenin, atau ngajak, ga bakalan keluar.

Nah, gue mau lo berpikir dalem-dalem, darimana mental kayak gini datengnya? Silakan pikir sendiri ya.

Ternak

Tau ga lo apa lagi yang memiliki “herd mentality?”

  • Kambing
  • Sapi
  • Domba

Ketiga binatang tersebut paling mudah dikembangbiakkan, soalnya mereka berkelompok dan mudah diarahkan. Dan ketiganya dikembangbiakkan untuk diambil susunya, bulunya atau dagingnya, ketika sudah menjadi gemuk, mereka dijagal.

Dan domba (sheep) adalah istilah terpopuler untuk menggambarkan “herd mentality”.

Itulah mengapa orang yang selalu mengikuti arus biasanya disebut “sheeple”.

Kalo lo puas dirilo jadi kambing ato sapi. Cukup. Stop sampe disini aja, ga usah dibaca lebih lanjut artikel ini.

Mental Idolisasi

Biasanya yang sepaket sama “herd mentality” ini adalah mental idolisasi. “Idol” artinya pujaan/sesembahan. Mengidolakan seseorang secara berlebihan.

Biasanya ini disebabkan rasa kurang percaya diri (mungkin sampe tahap inferiority complex), ngerasa dirinya jauh lebih rendah dari orang lain. Dan, namanya manusia tetap butuh pengakuan. Ketika individu semacam ini nemuin tokoh idolanya dia, dia ngebela, nyembah yang bersangkutan (tokoh idolanya) habis-habisan, seperti tanpa cela sama sekali.

Semua yang dia rindukan (pengakuan, pujian, penerimaan dan semacamnya) dia curahkan/wakilkan ke idola tersebut. Idola gue hebat, idola gue keren, idola gue begini dan begitu. Karena tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya sendiri, maka dia ngebanggain idolanya.

Ini juga masih berkaitan dengan bab-bab sebelumnya, karena memang mayoritas orang diajarkan untuk mematuhi otorita/status quo tanpa bertanya sama sekali. Dan siapa lagi tokoh otorita yang lebih berpengaruh, dibandingkan denan tokoh otorita yang dikagumi, dipuja-puja, disembah-sembah dan dielu-elukan?

Satu kalimat yang masih menclok di diri gue “respect the game, don’t idolize and you’ll do just fine”. Artinya, terima keadaan apa adanya, jangan mengidolakan siapa-siapa, elo bakal baik-baik aja.

Di “komunitas” lokal yang gue temuin justru sebaliknya. Idolisasi berlebihan, dan malas berpikir untuk diri sendiri. Sehingga sewaktu idolanya ngomong A, pengikutnya semua langsung melakukan A tanpa bertanya sama sekali, tanpa melakukan riset, tanpa melakukan cek dan ricek atau semacamnya. Abis itu, tingkah ini menular ke semua orang di dalam grup (atau tribe) tersebut. Ada minoritas yang tetep berpikir secara mandiri, tapi lagi-lagi, mereka cuma minoritas.

The Good, The Bad and The Evil

Apa itu “baik”? Apa itu “jelek”? Apa itu “jahat”?

Bisa ga elo ngedefinisiin ketiga kata tersebut? Kalo dalam konteks topik ini dan apa yang gue pahami sejauh ini :

  1. “Baik” itu “conform” terhadap masyarakat sepenuhnya, dari peraturan, norma dan semua tata cara yang berlaku di masyarakat, termasuk adat istiadat, agama, dsb. Dengan janji imbalan, seperti surga di akherat atau menjadi teladan.
  2. “Jelek” itu melanggar norma dan peraturan masyarakat baik sebagian atau seluruhnya. Biasanya elo akan diganjar dengan hukuman, atau “konsekuensi” atas perbuatan elo.
  3. “Jahat” itu merugikan orang lain. Dalam bentuk apapun itu. Baik secara fisik (mencuri uang, membully) maupun non fisik (meledek, menghina). Titik.

Lo hidup di tengah masyarakat, tentunya elo harus menjadi orang yang baik.

Atau… setidaknya terlihat baik. Tapi ini yang disebut dengan MUNAFIK.

Engga akan ada manusia yang bisa sepenuhnya baik, kita semuanya memiliki kejelekan, atau bahkan kejahatan dalam diri kita. Nobody’s perfect istilahnya.

Tapi apa elo puas jadi kambing?